PRINGSEWU, — Pemerintah Provinsi Lampung mendorong penguatan hilirisasi dan perluasan pasar produk pertanian untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen sekaligus memperkuat kesejahteraan petani.
Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat menghadiri Pesta Rakyat Petani dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional 2026 di kawasan Gruput, Kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu, Minggu (25/10/2026).
Gubernur menegaskan bahwa sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Lampung. Komoditas padi, jagung, dan singkong menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar masyarakat di provinsi ini.
Menurutnya, hampir 60 persen masyarakat Lampung bergantung pada ketiga komoditas tersebut. Karena itu, peningkatan harga jual hasil panen dan ketersediaan pupuk dengan harga terjangkau dinilai penting untuk menjaga pendapatan petani.
Salah satu upaya yang didorong pemerintah adalah mengembangkan hilirisasi, yakni mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah sebelum dipasarkan.
Kabupaten Pringsewu menjadi salah satu daerah yang disiapkan untuk mengembangkan langkah tersebut. Hasil olahan singkong berupa tepung mocaf atau modified cassava flour direncanakan memasuki pasar ekspor Amerika Serikat pada November 2026.
Gubernur menjelaskan, jika sebelumnya petani lebih banyak menjual singkong dalam bentuk mentah, kini masyarakat mulai mengolah komoditas tersebut menjadi tepung mocaf.
Langkah ini diharapkan membuka peluang ekonomi baru di tingkat desa, memperluas pasar produk lokal, serta meningkatkan nilai jual hasil pertanian.
Namun, keberhasilan hilirisasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memproduksi barang olahan. Kualitas produk, kesinambungan pasokan, akses pasar, dan kepastian harga bagi petani juga menjadi faktor penting agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyoroti persoalan harga singkong yang sebelumnya menjadi perhatian petani di Lampung.
Ia menyampaikan bahwa koordinasi pemerintah pusat dan daerah, termasuk kebijakan penghentian impor singkong dan etanol yang disebutnya telah diinstruksikan Presiden Prabowo Subianto, berdampak pada kenaikan harga singkong di tingkat petani.
Menurut Amran, harga pembelian singkong kini telah mencapai Rp3.000 per kilogram.
Pernyataan tersebut menjadi kabar penting bagi petani singkong. Meski demikian, harga yang diterima petani dapat berbeda menurut wilayah, kualitas hasil panen, kadar pati, biaya angkut, dan ketentuan pembelian di tingkat pabrik.
Karena itu, pengawasan terhadap praktik pembelian hasil panen dan kepatuhan terhadap ketentuan harga tetap diperlukan agar peningkatan harga benar-benar dirasakan petani di lapangan.
Menteri Pertanian juga menegaskan pentingnya pengawasan distribusi pupuk bersubsidi dan penindakan terhadap pihak yang menyalahgunakan hak petani.
Gubernur Lampung turut menyampaikan bahwa peningkatan pendapatan petani terlihat dari sejumlah indikator konsumsi di kabupaten berbasis pertanian.
Ia menyebut pembelian kendaraan niaga di sejumlah kabupaten pertanian meningkat hampir 40 persen, sedangkan penjualan semen ritel dilaporkan meningkat hampir 20 persen pada 2026.
Peningkatan tersebut dinilai sebagai salah satu indikasi menguatnya aktivitas ekonomi masyarakat perdesaan.
Meski demikian, perkembangan indikator konsumsi perlu dibaca bersama data resmi mengenai pendapatan petani, biaya produksi, nilai tukar petani, dan kesejahteraan rumah tangga pertanian untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh.
Dorongan hilirisasi dan ekspansi pasar internasional membuka peluang bagi Lampung untuk tidak hanya menjadi pemasok bahan baku pertanian, tetapi juga produsen barang olahan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Rencana ekspor tepung mocaf dari Pringsewu ke Amerika Serikat menjadi salah satu langkah yang patut dicermati perkembangannya, terutama terkait realisasi pengiriman, volume ekspor, nilai transaksi, dan keterlibatan kelompok petani lokal.
Pemerintah daerah juga perlu memastikan bahwa pengembangan industri olahan melibatkan petani secara berkelanjutan, mulai dari kepastian penyerapan hasil panen hingga pembagian manfaat ekonomi.
Dengan demikian, peringatan Hari Tani Nasional tidak hanya menjadi ajang penyampaian komitmen, tetapi juga momentum untuk memperkuat posisi petani dalam rantai pasok pertanian dan perdagangan.
Keberhasilan program tersebut pada akhirnya akan terlihat dari meningkatnya pendapatan petani, terbukanya lapangan kerja di desa, serta semakin luasnya pasar bagi produk pertanian Lampung.












